Segel Aurochs bagian 2

            Govalo tiba di rumahnya, kaget mendapati bahwa istrinya masih menikmati teh panas. Dia berkata “Dasar keras kepala, ini sudah larut kasihan anak kita”
            “Aku tidak bisa tidur govalo, panggilan mendadak dari raja yang telah memanggilmu membuatku sangat khawatir” jawab dona
            “Tidak usah khawatirkan aku semuanya baik-baik saja, perhatikanlah kesehatanmu nanti akan berpengaruh pada bayi yang kau kandung, itu yang lebih utama” ujar govalo sambil mengelus perut dona yang sudah buncit.
            “Fransis sudah tidur?” lanjut govalo
“Dia sudah tertidur pulas, hoammm aku merasa ngantuk sekarang aku tunggu di kasur” Dona memberikan secangkir teh panasnya ke Govalo dengan senyuman menggoda dan pergi ke ruang tidur.
Govalo hanya tersenyum sedikit heran dengan kelakuan istrinya itu, dalam benak hatinya tak ada yang harus diceritakan tentang apa yang terjadi di istana khawatir akan menambah beban istrinya. Selepas bayangan istrinya tidak terlihat segera dia menuju ke perpustakaan kecil di rumahnya di carinya buku tentang aturan perjanjian suci dengan Vatican. Teh panas didalam cangkirpun sudah dingin namun tak dijumpai apa yang sedang ia cari. Dalam hatinya “sial aku ingat pernah membaca bab itu apakah aku bermimpi?” di bolak balik kertas bahkan buku yang sudah using juga disantapnya.
Merasa frustasi dia berhenti sejenak dan melihat teko teh, diraihnya teko tersebut ditaruh di gelas. “sial teh ini sudah dingin” dia meminum sampai 3 tegukan teringat sesuatu. Segera dia beranjak dari kursinya dan memanggil Perez, pengawal pribadinya untuk menyiapkan kereta kuda.
Dengan cepat Perez menyegerakan perintah majikannya. Tak lama kemudian kereta kuda telah siap, segera Govalo naik. “kemana tuan?” Tanya Perez.
 “Kita akan ke istana” tegas Govalo
***
Jose Lopez masih belum tahu tentang isi daripada surat yang telah ia lindungi dengan taruhan nyawanya. Sudah menjadi kebiasaannya sebelum beranjak ke tempat tidur ia membaca beberapa literatue entah itu al kitab ataupun sekedar cerita jenaka. Dia tertawa terbahak bahak membaca cerita jenaka, tidak tahu bahwa raja pada saat yang sama telah membacakan isi dari surat suci yang telah dilindunginya dihadapan seluruh orang penting di Lisbon.
Lopez memilih cerita jenaka semenjak tugas mengantar surat bersegel aurochs diembannya sebagai pengantar tidur untuk sedikit menghilangkan beban yang dipikul. Merasa kantuk menyerang Lopez memilih untuk merebahkan badannya di tempat tidur, saat ingin memejamkan matanya terlintas ucapan dari Uskup Leo bahwa dalam awal musim dingin dia diharuskan kembali dengan jawaban Raja Forizo.
“Tok tok tok” bunyi pintu kamar Lopez dan datang suara “Daulo disini”. Segera Lopez bangun dari ranjangnya dan membukakan pintu. “inikah jawaban dari keresahanku tuhan?” batin Lopez.
“Maaf mengganggu anda di larut malam mini tuan Lopez, raja telah memberikan jawabannya yang akan dberikan besok pagi saat sarapan”
“Tidak apa Daulo aku juga belum tidur, ini sungguh berita baik kau membuat tidurku nyenyak mala mini dengan kabar baik” jawab Lopez.
Segera Daulo meninggalkan kamar Lopez, dia berencana untuk mengistirahatkan tubuhnya juga.
***

Sabtu pagi masih di musim gugur di aula hernstak pemandangan yang luar daun pohon sad yang masih berembun membawa suasana damai bagi siapapun yang melihatnya. Semua menikmati hidangan dengan ceria tidak ada lagi wajah ragu, tegang, maupun bingung diantara bangsawan kerajaan. Lopez dan teman – temannya pun senang dengan suasana tersebut, dia mengira bahwa surat bersegel aurochs akan membawa kedamaian bagi portugis dan eropa juga rakyat kristen terutama.
Tiba saatnya di penjamuan makanan penutup, raja yang bercengkrama dengan Lopez bercerita tentang pengalaman raja saat di Vatican, sejenak menghentikan pembicaraan tersebut dan mulai berdiri.
“Pagi indah di kota Lisbon, pagi damai karena ada utusan suci Vatican ada di kota tercinta ini. Terima kasih karena sudi menginjakan kaki di negeri terpencil nan jauh ini, hormat kami untuk uskup agung yang telah langsung memberikan kabar penting kepada kita. Dia bertanya maka kami menjawab, maka jawaban kami ada di dalam surat ini dan akan kuberikan kepada utusan suci Jose Lopez!” ujar Raja Forizo
Semua bangsawan yang hadir bersorak dan tertawa senang dengan pidato raja tersebut. termasuk Horez. Raja kemudian duduk dan menyerahkan langsung surat jawaban kepada Lopez. Lega dan senang adalah perasaaan yang dirasa oleh Jose Lopez, dia pun tak mengira bahwa akan mendapatkan jawaban yang begitu cepat hanya satu malam.
Apapun yang terjadi Lopez tidak peduli karena tugasnya hanya sebagai kurir. Dalam hari itu juga dia mulai mobilisasi rombongannya untuk bersiap kembali ke Vatican.
            Sore hari Lopez dan Pasukan Suci telah siap untuk meninggalkan istana kembar, Raja Forizo bersama bangsawan berkumpul di depan aula hernstakk untuk melepas kepulangan Jose Lopez.
“Terima kasih atas keramahan yang telah engaku berikan Raja Forizo” ujar Lopez
Dipeluk Jose Lopez oleh Raja dan berbisik “Hanya Uskup Agung yang boleh membuka dan membaca surat ini, taka da Raja, Bangsawan ataupun orang penting lainnya yang berhak membacanya. Jika hal itu terjadi aku pastikan jawaban kami tidak akan lebih baik dari yang ada didalam surat ini, dan kau harus menanggung akibatnya”
            Gemetar Jose Lopez mendengar apa yang telah diucapkan oleh Raja Forizo.
“Jaga dirimu baik – baik Lopez, semoga tuhan menyertaimu” ucap raja dengan senyuman yang telah dianggap Lopez sebagai senyuman palsu.
Namun tak ada pilihan lain dalam benak Lopez inilah resiko berhubungan dengan orang yang berkuasa. Lopez dan rombongan bergegas pergi dan seluruh jalan sudah ramai dengan rakyat yang antusias terutama untuk melihat pasukan suci.
Lonceng gereja bergemerincing  sahut menyahut dengan indah mengiringi kepregian Jose Lopez dan pasukan Suci. Setelah melewati gerbang dan suasana menjdai sepi karena tidak ada lagi rakyat yang menyapa. Lopez teringat bahwa dalam pelepasan kepergiannya tidak nampak Daulo di seblah raja atau manapun. Dia bertanya kepada teman dan penjaganya, mereka juga tidak melihat keberadaan Daulo.
***
Suara meriam senapan menggelegar saat pagi yang damai di telu hoginza, armada besar kesultanan ottoman menyerang. Pos dan benteng teluk terbakar bahkan ada yang hancur total, kekelaman akan melanda konstatinopel.
Bersambung...






Previous
Next Post »
Thanks for your comment