Suatu Ketika Karma Itu


Pukul 11.36 setelah seminar tentang efisiensi pemanfaatan potensi local, bola hitam itu kembali, gelap dan kelam yang membangkitkan salah satu memori luka yang pernah kualami. Aku telah berhasil membuang bola memori hitam itu ke jurang hitam tiada ujung di dalam otakku. Namun apa daya yang kuasa memberi keajaiban untuk bola hitam kelam itu.

“Yan” terhenti minumku, aku ingat suara ini, halus dan lembut. Entah kenapa suara yang bisa meluluhkan setiap laki – laki yang mendengarnya justru membuat sakit diantara sela – sela tulang rusukku.

Aku menoleh, benar saja dia. Wanita yang tak pernah kuharapkan untuk bertemu kembali ada disampingku sekarang. Aku masih terdiam apa yang harus kukatakan hanya benci yang ada didalam hatiku, apakah aku harus lari?

“yan, kamu wayan kan?” dia bertanya kembali menegaskan apakah dia benar mengenaliku. “iya” sial benar mulut ini berucap spontan, harusnya aku mengelak saja. “kamu masih mengenaliku kan?” dia tersenyum manis, jujur saja mata sipit dan kulit putihnya memang tipeku, dia sungguh manis.

“mana mungkin aku lupa, kamu tambah cantik” jawaban ngelantur yang kuucapkan, kecantikannya telah mebutakanku. Aku harus mengakhiri ini “maaf aku harus pergi, buru – buru nih” lanjut ucapanku.

“oh iya, kamu kan orang bisnis sibuk terus” jawab indah. “hehe maaf ya” aku lihat jam di tangan kiriku agar tampak elegan dan memasang muka terburu – buru. Terus aku langkahkan kaki ini menjauh darinya sampai akhirnya tiba di parkiran, sempat terpikirkan kenapa sikapku masih saja seperti anak kecil apa yang bakal dia rasakan. Entah aku tak peduli dia juga begitu dulu..

Sambil menyetir mobil dan terjebak macet, semua kenangan masa lalu bersamanya seolah keluar, lebar dan cerah seperti nonton bareng film horror di bioskop hanya seorang diri, menakutkan! Bukan menakutkan tapi menyakitkan entah film apa yang cocok untuk keadaanku saat ini. Sampai klakson mobil dibelakangku berbunyi berulang kali dan menyadarkanku.

Sebenarnya hari itu aku tidak sibuk, aku langsung pulang ke rumah. Kunyalakan PS 4 ku, ku pilih game aksi favoritku beberapa menit bermain mungkin bisa melupakan beberapa masalah dunia. Sengaja aku matikan smartphone ku saat bermain game karena kurasa memang saat ini adalah waktu pribadiku.

Menit ke menit sampai akhirnya berjam - jam, aku sampai di bagian tersulit dalam game tersebut segala cara aku coba namun teka teki untuk mengalahkan rangkaian kapal tersebut belum bisa aku pecahkan sampai ruangan di otak kiriku terasa terbakar dan para kurcaci yang mengelola berkas di ruangan otak kiriku serasa menendang – nendang dinding tulang kepalaku. Saatnya makan, mungkin dengan itu otakku bisa tenang.

Aku pergi ke dapur dan melihat – lihat isi kulkas, ada bakso! Cocok dimasak sama mie ini. Clap proses memasak selesai, saatnya makan spagetioz ala rumahanoz yummy.

Aku membawa spagetioz ala rumahanoz ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Serasa masih ada yang kurang, smartphone ku. Aku pergi ke kamar untuk mengambil smartphoneku, smartphone yang dingin itu aku pegang dan ku transfer kekuatan magisku sehingga smartphone itu menyala.

Sambil smartphone kembali menghirup nafasnya aku berjalan ke ruang tengah untuk menjemput spageti yang mulai  kedinginan. Aku duduk dan mentransfer beberapa suap spageti untuk kurcaci –kurcaciku yang kelaparan tadi. Akhirnya smartphone selesai menghirup nafasnya, beberapa bunyi kegirangan dari smartphoneku sudah mulai menggema.

Tumben bunyi dari facebook messenger menggema, ada tiga pesan disana yang belum kubuka karena penasaran aku menghiraukan applikasi laiinya dan mulai memencet aplikasi messenger itu. Keluar pesan “Yan, kapan kamu tidak sibuk?”  dari indah.

Apa yang harus kubalas, apakah aku harus menuruti egoku dengan mengabaikannya. Aku kesampingkan sebentar pesan tersebut dan mulai menjemput spageti, beberapa suapan spageti telah berlalu. Bisikan setan mulai datang, ada yang berbisik inilah kesempatan untuk membalas dendam setan – setan yang lain bersorak sorai mendukung penuh ide tersebut. Itu membuat mantap di hati dan segera aku balas pesan dari indah, “Malam ini”.

Setelah membalas pesan itu, ada beberapa yang mengganjal. Apakah benar dengan ini aku bisa membalas luka yang pernah kualami atau justru sebaliknya? Lalu apa yang sebaliknya? Berkutat aku dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, tidak ada kemungkinan terburuk yang bisa aku alami tidak ada yang melebihi luka ynag pernah ada dalam diriku.

Selang beberapa waktu indah membalas pesannya “bisakan ketemu langsung?” baris pertama. “kalau bener bisa mau dimana?” baris selanjutnya.

“pukul 19.30 kita bisa ketemu, kamu tahu café kopi – kopian?” balasku.

Tak lama menunggu “tidak tahu, apa kita ketemu di café kapean kamu pasti tahu”

Tempat itu memang terkenal dan aku pernah juga mencicipi suasananya, aku setuju dengannya. Akhirnya aku bisa melanjutkan makan sepageti dengan tenang ditemani setan – setan yang telah mengilhamiku.

Pukul 19.00 aku mandi setelah menjalankan shalat isya’. Sudah bersih mulai kuguyur badanku dengan semprotan wewangian, berpakaian kece, menata rambutku, dan mengaca “ganteng sudah diriku”. Setelah bersiap – siap pukul 19.19 aku berangkat, café tersebut memang tak jauh dari rumahku sekitar 10 menitan kalau tidak macet.

19.35 aku sampai di parkiran café, dari luar belum ada tanda – tanda dari dia. Aku membuka HP dengan niat untuk menghubunginya, ternyata sudah ada pesan 7 menit yang lalu “aku sudah sampai” dari indah. Sudah menjadi kebiasaanku kalau mengemudi harus tetaplah focus, yang aneh adalah dia tidak menelfon ku bukankah aku sudah telat 5 menit, mungkin sudah terbiasa dengan kebiasaan ngaret masyarakat Indonesia.

“baru saja sampai, tadi agak macet. Kamu masih disini kan?” aku jujur dalam membalas pesan ini, jalanan memang ramai apalagi waktu dinner.

“masih, lantai 2 y” Indah membalas

Dengan segera aku masuk kafe dan menuju ke lantai 2, ternyata ramai sekali banyak muda mudi sedang meikmati hidangan dan bersendau gurau. Aku toleh kekanan dan kekiri ternyata dia ada di ujung timur dekat dengan pagar depan. Pintar juda dia memilih tempat karena bisa mendapatkan view yang indah.

Aku melihatnya sedang sibuk dengan hp pintarnya, menunduk melihat dan ketak ketuk papan digital itu. Sudah menjadi pemandangan dimana – mana jadi tidak mengherankan termasuk juga diriku akan berperilaku demikian tapi bukan dengan alasan agar tidak mati gaya, aku melakukan hal tersebut juga untuk memperlebar bisnisku.

“Hi ndah, maaf telat” aku menyapanya sambil bersiap – siap untuk duduk. “eh ga papa kok, ga lama juga” dia tersenyum manis.

Ternyata dia baru memesan minuman, akhirnya kita mencari – cari menu makanan. Beberapa masakan sudah dipesan, dia memutuskan untuk memilih masakan yang sama denganku. Setelah pelayan pergi dengan semua menu pesanan kami, “bukankah aku SPB yang baik?” canda diriku.

“SPB istilah apa itu?” indah terlihat bingung. “Sales Promotion Boy, terbukti kau memilih steak yang sama karna ucapan sihir dariku” aku tertawa. Dalam waktu menunggu masakan datang, kami bertukar cerita tentang apa yang telah dialami selama 4 tahun tidak berjumpa. Kebanyakan hanya momen – momen lucu dan unik yang kuceritakan ke dia begitupun cerita dari indah.

Steak hangat dengan asap tipis yang masih mengepul juga paduan lemak dan sauce panas seperti lava dengan gelembung yang bergatian membesar dan pecah, sempurna untuk mengisi cacing –cacing kelaparan dalam perut. Tak ada yang bisa berbohong dengan kelezatannya, termasuk indah saat kutanya bagaimana pendapatnya, dia tak bisa bohong seeprti wajah saat pertama kali aku mengajak ke kedai mi ayam yang terkenal enak.

Beberapa suapan steak telah masuk, “kamu sudah punya pacar yan? Atau mungkin mau ke pelaminan?” ucapan yang tak ingin kudengar, jujur aku sudah lupa dengan rencana membalas dendam dan sekarang justru datang kembali.

“Belum dan belum” jawabku. Dia tersenyum  dan membalas jawabanku “orang sibuk sampai cewek pun ga kepikiran ya”.

“tidak, itu kelihatan luarnya saja ndah. Didalam pikiranku justru penuh dengan dia, dia yang begitu cantik, begitu baik, begitu menawan” jawabku.

Muka indah semakin berbinar dan tersenyum tipis “kamu masih ingat janji 4 tahun yang lalu”.
Kata – kata tersebut sangat menyakitkan, semua bola hitam ynag telah mengecil di otakku mulai membesar dan melahap bola – bola indah lainnya. “Janji? Banyak janji yang aku pernah katakan” aku mencoba mengelak.

“Bahwa kamu mau menikahiku kelak” jawab indah.

Inilah momen yang bisa kubuat untuk membalas dendam dan dia akan mengalami rasanya sakit yang pernah aku alami. Aku menghentikan makan, steak yang lezat tersebut berubah menjadi daging busuk tak bisa lagi aku melahapnya, ku letakkan garpu dan pisau.

Aku tertawa dan menjawab “lucu juga ya diriku yang dulu, mana mungkin aku lupa aku bukan playboy hanya sedikit wanita yang punya hubungan dekat denganku bahkan jumlah jari tanganpun sisa bila digunakan untuk menghitungnya haha”

“Jadi kau akan menepatinya?” indah menanggapi.

“Kamu sudah tahu jawabannya bahkan sebelum kita bertemu disini ndah, sudah menjadi sifatku” aku menjawab dengan senyuman. Sebenarnya aku akan melanjutkan dengan memberitahu penghianatan yang pernah ia lakukan namun tak sampai, siasat setan telah gagal.

“Aku tidak ada pacar saat ini yan, apalagi calon suami”  sambung indah

“Akulah orang munafik itu, yang tidak bisa menepati janji, maaf” entah perkataanku membuatnya sakit hati atau membenci diriku tapi itulah kenyataannya. Skema perkataan dari yang setan telah persiapkan lebih menyakitkan daripada ucapanku tadi mungkin inilah yang terbaik untuk diriku dan dirinya.

“Kamu telah berubah yan, aku menyesal dengan apa yang telah aku perbuat, janjimu itu selalu menguatkanku dan merubahku untuk menjadi lebih baik, tapi apa daya merubah hati dan pikiran orang tak semudah membalikan telapak tangan” tanggapan indah.

“Jadi kamu sudah mantapkan hati dengan dia yang baik itu?” sambung indah.

“Dia sudah menikah beberapa bulan lalu, tapi aku bahagia melihat dia bisa menemukan yang terbaik untuk dirinya, kenapa pikiranku penuh dengan dia? aku berharap kelak pasangan hidupku akan seperti dia, setiap mengingatnya aku selalu tersenyum kecil, hanya beberapa memori yang membuatku kecewa terhadap diriku sendiri karna telah mencampakkannya” ujarku.

“Kau menghianatinya?” Indah sangat tertarik dengan ceritaku

“Tidak, aku lebih memilih dirimu dulu” jawabku. Setelah mendengar jawabn terakhir itu tidak ada lagi percakapan diantara kita, Indah mulai memainkan jemarinya diatas layar digitalnya begitupun juga dengan diriku. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang, Indah tidak menggunakan kendaraan sendiri saat kesini. Jadi aku akan mengantarnya dan ia pun setuju. 
bersambung...
Previous
Next Post »
Thanks for your comment