Melihat Sejarah dan Masa Depan

Seni adalah keindahan yang memancarkan energi positif bagi manusia. Seni telah membimbing sejarah peradaban manusia, melekat kedalam jiwa. 

Sebagai penulis (pemula), walaupun hasil tulisan atau karya sastra saya belumlah bagus dan indah. Tetapi saya anggap tulisan saya adalah seni yang mencerminkan ekspresi dari perasaan, gagasan, dan pemikiran saya. Jadi, saya menanamkan sikap pantang menyerah untuk berkarya agar suatu saat nanti pemikiran - pemikiran saya dapat diterima oleh khalayak.

Sebenarnya tidak banyak harapan saya mengenai hasil karya tulisan sendiri, adalah agar bisa menghibur orang lain dan berbagi informasi yang bermanfaat bagi sesama menjadi tujuan utama saya dalam menulis. Namun, "ibarat nasi tanpa lauk" mungkin itu ungkapan terbaik untuk karya tulisanku saat ini. Nasi adalah sumber energi utama yang memberikan rasa kenyang dan lauk adalah pelengkap supaya makanan enak rasanya dan enak dipandang. Nah tulisan saya mungkin bisa memuaskan rasa nafsu manusia akan informasi akan tetapi karena tidak ada lauknya atau seni atau keindahan dalam menyusun katanya, alhasil orang akan melihat "oh itu nasi". 

Mereka sudah tahu rasanya nasi, oleh karena itu karya tulisanku hanya sekedar lewat bagi pembaca. Sudah saya siunggng, bahwa saya harus pantang menyerah. Karena, pertama usia saya masih muda (catatan :"tidak ada batasan umur dalam mencari ilmu") jadi saya masih punya banyak energi dan waktu untuk terus menuntut ilmu dan mengasah teknik menulis. Kedua, karena tulisan telah merubah cara pandang saya. Ketiga, saya banyak terhibur dengan tulisan - tulisan yang saya baca dan karenanya saya sangat terinspirasi untuk membuat kesan yang sama melalui tulisan sendiri.

Ketiga alasan tersebut yang membuat saya belajar - belajar terus sampai saat ini (walau masih belum bisa menulis dengan bagus). Saya mendapati bahwa tulisan saya itu tidak inspiratif, tidak tertata, tidak menghibur, tidak berseni, dan masih banyak tidak lainnya. Apa yang harus saya lakukan?

Banyak yang bilang membaca, membaca, dan membaca. Lalu ada juga "Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu : menulis, menulis, dan menulis" oleh Kuntowijoyo. Tapi masih ada yang dirasa kurang menurut saya, yakni pengalaman visual, pengalaman tentang melihat sesuatu untuk dituliskan. Mungkin Lord of The Ring tidak akan lahir apabila J.R.R Tolkien tidak melihat indahnya desa - desa Worcestershire dan juga menyaksikan kejamnya perang dunia I.

Saya sendiri sadar bahwa manusia pada umumnya akan mempercayai apa yang dilihatnya dan disentuhnya dari pada apa yang ia dengar. Karena itu sungguh beruntunglah bagi anda yang mempunyai bakat dan minat dalam menggambarkan pikiran dan perasaan menjadi wujud nyata atau yang kita kenal sebagai seni rupa.

Nah, karena seni rupa adalah wujud karya yang bisa dilihat dan disentuh jadi karyanya harus menampilkan visual atau gambaran dan atau wujud nyata yang bisa kita sentuh, seperti gambar, lukisan, patung, film, barang (benda), dan lain - lain. Tidak lain halnya dengan tulisan, karya - karya seni rupa juga merupakan ekspresi jiwa berdasarkan perasaan dan pemikiran penciptanya dengan tidak lupa adanya unsur estitika, bedanya adalah karya seni rupa jauh lebih cepat dan mudah dipahami bagi khalayak umum karena mata tak bisa dibohongi.

Jiwa atau roh yang tertuang dan terlihat itulah sehingga dunia bisa berubah dan terus maju, tanpa jiwa, "manusia" akan mati. Konsep atau tema inilah yang dipakai dalam pameran acara seni rupa Jakarta Biennale 2017.

Apa itu Jakarta Biennale?

Jakarta Biennale adalah perhelatan akbar acara seni rupa yang digelar dua tahun sekali oleh Dewan Kesenian Jakarta. Untuk menjumpai event ini anda harus datang ke Gudang Sarinah Ekosistem, Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Yang akan anda dapatkan di event Jakarta Biennale mungkin adalah pengalaman yang tak terlupakan, Tidak hanya lukisan dan patung, di event ini juga ada berbagai pertunjukan dari berbagai daerah. Selain itu karena karya yang ditampilkan merupakan isi dari Jiwa seniman itu sendiri, anda akan mendapatkan sensasi kesan indah, unik, dan aneh. Memang sejarah membuktikan bahwa seniman dengan gagasannya tidak sinkron di jamannya, namun sejarah juga membuktikan bahwa mereka benar dengan karya yang dibuatnya, oleh karena itu dengan melihat karya - karya mereka saat ini, anda bisa melihat ide - ide yang visioner meski terkesan "gila".

Sebagai contoh, tentu anda sudah mendengar Leonardo da Vinci, dia adalah pelukis Renaisans Italia yang terkenal. Lukisanya yang diberi nama Jamuan Terakhir dan Monalisa sudah menjadi legenda nyata saat ini. Dari lukisannya kita bisa melihat suasana yang dihidupkan kembali dari perstiwa makan malam terakhir Yesus Kristus dan 12 Rasul sebelum kematiannya. Tidak hanya itu da Vinci juga melukis Tank, Mobil, dan teknologi modern lainnya yang diangga mustahil dan "gila" dimasanya. Namun, kenyataannya, mustahil? gila?

www.instagram.com/p/BbzIhAvFzB8/?taken-by=jakartabiennale

Apa tafsiran anda terhadap foto diatas? sebelum mengetahui judulnya, saya tafsirkan bahwa pria tersebut sedang patah hati, mungkin ada yang sependapat dengan saya? Judul karya tersebut adalah "Vanishing Border or Lets Talk About the Situation in Iraq" karya dari duo performance artist yakni Ali Al - Fatlawi dan Wathiq Al - Ameri, yang artinya lenyapkan perbatasan atau mari kita bicarakan situasi di Irak. Menarik bukan?

Bagaimana interpretasi karya membantu kehidupan sosial, membukakan mata oraqng lain untuk peduli terhadap sesama. Terlihat di gambar, masih ada 3 slide lagi yang menggambarkan bahwa konflik di Irak adalah bentuk yang sia - sia, menyebabkan kerugian banyak baik materil maupun nyawa manusia tidak bersalah.

Tentu masih banyak karya - karya lain yang akan menghibur, mengisnpirasi, dan menambah wawasan bagi anda di Jakarta Biannele 2017. Nah, bagi yang ingin menambah wawasan dan ingin mengunjunginya sudah saya infokan tempatnya dan untuk waktunya, event ini digelar sampai tanggal 10 Desember 2017. 


Previous
Next Post »
Thanks for your comment