Cerita Epik Gilgamesh, Prasasti 1 Bagian 2 "Pemburu Muda dan Enkidu"



"Sepertinya besok adalah hari keberuntunganku ayah. Kita bisa makan daging lagi". Kata pemburu muda sembari tersenyum meyakinkan ayahnya.

Kalau engkau yakin, maka persiapkan peralatan sekalian juga perangkapnya, ayah akan selalu mendoakan keberuntunganmu dan keselamatanmu nak.

Mendapat restu dari ayahnya, pemburu muda itu tampak sangat bahagia seperti melihat datangnya musim semi. Segera, pada malam itu juga, ia menyiapkan segala perlatan, pisau, panah, dan perangkap serta bekal makan untuk tiga hari.

Pagi - pagi buta, ia berpamitan kepada orang tuanya untuk mencari daging yang sangat jarang mereka makan. Tanpa tahu apa yang menanti di hutan rimba, ada sosok Enkidu.

Dengan hela nafas panjang, mulailah ia hempaskan langkah kaki untuk membahagiakan keluarganya. "Akhirnya terbebas dari hal yang membosankan, dan mungkin tidak lagi makan hanya gandum kasar" tersirat benat dalam hati pemuda tersebut. Karena ketamakan Gilgamesh pula, dimana seharusnya kegiatan berburu sebagai hal yang menyenangkan kemudian menjadi kebutuhan.

Setapak demi setapak ia lampaui sampai ia mulai melihat hutan lebat, tempat biasa orang - orang mengadu nasib mencari daging untuk keluarga. "Seperti ada yang berubah dengan hutan ini, terasa gelap dan mencekam, ah mungkin itu firasatku saja karena kebanyakan makan gandum kasar" pemuda itu berusaha menghibur diri dalam konflik batinnya. Apa yang ia lihat memang begitu adanya. Hutan itu tidaklah hijau namun menghitam, tak ada lagi kicauan burung - burung dan hembusan angin keluar dari hutan terasa pengap.

Ranting demi ranting dan semak belukar ia sabeti. Tibalah ditengah hutan yang ia rasa nyaman untuk mempersiapkan semuanya dan memutuskan untuk menutup mata sejenak. Setelah rehat dirasa cukup, pemuda itu mulai menelisir tanah yang kemungkinan dilewati hewan buruan. Dilihatnya pohon besar dengan buah yang telah matang, disitulah ia memantapkan untuk membuat perangkap. Mulailah digali tanah yang lembab, sampai membentuk lubang setinggi badannnya. Kemudian ia tutupi dengan ranting dan dedauan, serta tak lupa menaruh umpan diatasnya. Tak hanya lubang itu, dia juga memasang perangkap lainnya.

Keinginan kuat ingin memakan daging, membuat pemuda itu tidak ingin diam menunggu perangkap - perangkapnya berhasil menjebak hewan liar. Dia berkeliling mencari hewan buruan yang bisa membasahi darah anak panah dan pisaunya. Lama berkeliling akhirnya dewa memberikan ia berkah dengan mengarahkan anak panahnya pada seekor kelinci.

Nafsu makan daging pun sudah terpenuhi, alangkah bahagia pemburu muda pada malam itu. Sudah terbayang bahwa besok perangkap - perangkapnya sudah diisi dengan hewan yang bisa membahagiakan keluarganya. Perut terisi, api unggun yang menghangatkan, seketika membuat mata pemburu muda tersebut berat dan akhirnya terlelap.

***

Keesokan hari, pemuda terbangun dari mimpinya. Bergegaslah ia memanen berkah dewa yang sudah dharapkannya. Dalam perjalanan untuk menilik perangkap - perangkapnya, ia mendengar desah nafas dengan suara yang sangat keras. Setiap hela nafas makhluk itu membuat si pemuda menghentikan nafasnya. Penuh rasa ingin tahu dan sangat hati - hati, ia melangkah mendekati sumber dari bunyi menakutkan itu. Sampai akhirnya ia mendekati semak - semak yang lebat.

Keringat dingin bercucuran, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemuda itu terbujur kaku, dengan sangat hati - hati, ia melangkah mundur dan dengan segera tanpa menimbulkan bunyi pada gerakannya, si pemburu muda menuju perangkap - perangkap yang sebelumnya dipasang. 

***

"Dimana aku? Rasanya tempat ini tak asing?" gusar pemburu muda itu. Kemudian ia menolehkan pandangan ke seluruh isi ruangan, benar saja dia sedang di rumahnya sendiri. Ia merasa seluruh badannya terasa seperti ditusuk paku, namun untuk membuktikan bahwa ia tidak berada di dunia mimpi, dengan paksaan yang kuat ia mulai menggerakkan tubuh dan menjauhi ranjang.

Dibukalah pintu dari rumah tua, sesaat kemudian terpaan matahari yang panas menerpa kulit si pemburu muda. Lalu, "Ah, kamu sudah terbangun nak, tak usah memaksakan dirimu, kembalilah beristirahat." suara dari pria tua yang sedang beristirahat.

"Ayah? ini bukan mimpi kan?" jawab pemuda lemah itu.

"Aku bersyukur kamu baik - baik saja nak" tampak wajah bahagia dari pria beruban itu. Seketika pemuda itu memeluk ayahnya disertai tangisan bahagia.

"Sudah, sudah, kembalilah istirahat. Ayah hendak mencari sesuatu. Kita bahas lagi nanti malam."

***

Pada malam harinya, api unggun mulai mengepul dari rumah tua itu. Pemburu muda yang masih merehatkan tubuhnya, terbangun karena bau yang datang dari arah dapur. Nalurinya membibing tubuhnya untuk mendekati asal muasal bau sedap itu, apa yang dilihatnya membuat ia tak kuasa menahan tangis bahagia sekaligus membawa dilema pada pikirannya.

"Ayah, itukah hasil pencarianmu tadi siang?" tanya si pemuda.

Ayahnya membalas dengan senyum hangat "Kemarilah nak, rasanya ayam ini bisa menyembuhkan sakit dibadanmu". Dengan kerendahan hati, ia melangakah menghampiri ayam bakar yang masih panas istimewa buatan ayahnya.

"Maafkan aku ayah, aku lemah" dia berkata sembari mengunyah daging ayam, tak tertahan juga air mata penyesalan yang ada pada dirinya untuk keluar.

"Tentu bukan hal biasa yang telah kau lalui di hutan itu kan?"

"Iya, aku aku aku..." seluruh badan si pemuda menjadi gemetar dan makin deras air mata yang keluar.

"Sshhhh tak usah kau paksakan, habiskan saja ayam itu" tanggap ayahnya.

"Tidak" ia berteriak. "Apa yang ada dihutan itu sangatlah mengerikan, aku melihat raksasa penuh bulu sedang mandi di kolam".

"Raksasa?"

"Iya, badannya besar dan memiliki muka yang ganas. Lantas dengan hati - hati aku menjauhinya dan bergegas melihat perangkap yang telah aku pasang. Tanpa bunyi yang mengagetkan, sampailah aku di perangkap - perangkap itu. Namun, semuanya telah dirusak, lubang perangkap sudah terisi dengan tanah, dan perangkap lainnya pun telah rusak. Mengetahui hal tersebut, aku sangat amat yakin, itu merupakan perbuatan yang dibuat raksasa berbulu itu".

"Tak peduli dengan apa yang kubawa, hanya pisau di genggaman sebagai teman untuk lari dari hutan itu sejauh mungkin dan masih melangkah dengan hati - hati. Tiba - tiba tanah terasa bergetar dan suara meraung yang menggelegar membuat aku terkejut, sontak aku lari membabi buta dan menebas semua yang ada didepanku. Dalam pikiranku adalah hanya lari sekencang mungkin menuju rumah".

"Maafkan anakmu yang lemah ini ayah" si pemuda nampak lega setelah mengeluarkan isi hati dan pikirannya.

"Sesungguhnya aku melihat kebenaran dari ucapanmu, ada baiknya kita beritahukan kepada raja Gilgamesh" tanggap orang tua beruban itu.


Note : Isi cerita sesuai dengan plot yang tertulis pada Prasasti 1 "Cerita Epic/Epos Gilgamesh"
Previous
Next Post »
Thanks for your comment