Full width home advertisement

Travel the world

Freedom Of Chit Chat!

Post Page Advertisement [Top]



Apakah engkau tak mengindahkan ucapan - ucapanku wahai Gilgamesh?

Tak ada jawaban dari Gilgamesh, bahkan perkataan dari ibunya tersebut seperti angin malam yang tak pernah dihiraukan. Ia hanya tertunduk, apa yang difikirannya adalah kesenangan apa lagi yang bisa ia capai besok. Karena tidak kuat lagi merasa waktunya dibuang oleh ibunya, Gilgamesh akhirnya dengan terpaksa mengiyakan nasehat ibunya.

Aruru tahu apa yang ada didalam hati anaknya itu. Akan tetapi dia masih percaya bahwa sifat manusia yang ada pada Gilgamesh dapat menyelamatkannya dari gerangan nafsu dewa.

***

Keesokan harinya, Gilgamesh masih terngiang - ngiang dengan mimpinya semalam. Memasang muka masam, ia berjalan menuju aula kerajaan untuk sarapan. Bahkan masakan - masakan yang tak pernah orang manapun memakannya tetap tak bisa mengembalikan ketenangan pada hati Gilgamesh.

"Aku yang sebenarnya ibu inginkan? Bukankah aku berhasil menjadikan Uruk sebagai pusat dunia?" terbesit pikiran itu dalam kepalanya. Ia kesal karena raja seluruh dunia diperlakukan layaknya anak kecil. Padahal tak ada orang manapun yang mampu melampaui apa yang telah Gilgamesh capai.

Tapi ia lupa bahwa dia pun masih manusia dan karena pemberian berkat dari Arurulah yang membuat dia menjadi Manusia - Dewa.

Menghirakan nasehat Aruru. Gilgamesh masih melakukan perbuatan - perbuatan bejatnya. Menantang dan membunuh orang tanpa alasan yang jelas, tidur dengan istri - istri orang lain, menindas dan mengambil apapun dari rakyatnya.

Aruru tentu bisa melihat situasi apa yang terjadi disudut - sudut kota Uruk dan seluruh penjuru  negeri Sumeria, tapi melihat anak polos yang ia kasihi menjadikan ia tak bisa merenggut apa yang sudah ia beri.

Sampai akhirnya, rakyat yang sudah tak kuasa menahan kepedihan dan penderitaan dari tingkah Gilgameh yang sewenang - wenang. Mereka berdoa kepada dewa - dewa supaya bencana ini dicabut dan Gilgamesh dilenyapkan dari muka bumi.

"Apakah ini raja yang seharusnya melindungi kami layaknya seorang penggembala? Ataukah ini raja yang memperlakukan kami layaknya lembu liar?" keluh rakyat kepada dewa.

Begitu nyata penderitaan yang nampak, para dewa pun sudah mendengar doa - doa meraka. Aruru
yang telah membuat Gilgamesh, maka ia juga yang harus menyelesaikannya.

***

Mulailah Aruru membentuk sosok serupa manusia dari tanah liat. kemudian dibasahi dengan ludahnya dan lahirlah seorang manusia dengan anugrah kekuatan dewa layaknya Gilgamesh, manusia itu diberi nama Enkidu.

Supaya sifat dari Enkidu terjaga dari dunia fana yang dapat melenakan setiap insan. Maka Enkidu ditempatkan jauh dari orang - orang, jauh dari kota dan desa, ia tinggal di hutan rimba bersama para hewan liar.

Aruru membuat Enkidu tampak menyedihkan, dengan tidak seperti manusia pada umumnya. Tubuhnya dipenuhi bulu dan bahkan nampak seperti hewan buas. Bukan tanpa alasan kenapa Aruru membuat ia seperti itu.


Note : Isi cerita sesuai dengan plot yang tertulis pada Prasasti 1 "Cerita Epic/Epos Gilgamesh"
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]