Senin, 21 Mei 2018

Merayakan Kemerdekaan Hidup di Puncak Gunung Merbabu

Unforgetable Memories



16 Agustus, semua persiapan sudah lengkap. Kemana kami akan travelling? Pertanyaan tersebut memang menjadi perbincangan seru diantara ke - empat pemuda yang bergairah akan petualangan ini. Bahkan sudah dari bulan sebelumnya, kami tak henti - hentinya membahas perihal "Akan kemana untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia?".

Ada yang mengusulkan untuk bertravelling ke dataran tinggi Dieng, ada pula yang ingin ke pantai Gunung Kidul, namun yang paling menarik adalah usulan dari sebut saja Bondan. Ia mengusulkan supaya kita merayakan Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia di atas gunung. Suatu usulan yang menarik, kenapa tak terpikirkan olehku dimana aku juga aktif mendaki.

Usulan dari Bondan yang menarik itu kami sepakati dan ditentukanlah target pendakian adalah Gunung Merbabu di Magelang. Kenapa Merbabu?

Pertama - kami berempat belum pernah mendakinya.

Kedua - saya pribadi sangat penasaran dengan Gunung Merbabu, karena banyak dari senior - senior pendaki gunung di desa saya pasti memiliki stiker Gunung Merbabu dengan caption "Jembatan Setan" dan background stikernya adalah orang melompat antara tebing satu ke yang lainnya. Saya kira sangat keren apabila berhasil merintanginya.

Ketiga - bertravelling atau wisata ekstrim seperti naik gunung dan disaat momen yang teramat istimewa yakni Hari Kemerdekaan RI, pasti akan membuat kenangan unik yang tak akan terlupakan.

Keempat - saya sudah pernah mendaki ke Gunung Sumbing, dan melihat jajaran gunung sekitarnya yang tampak elok ketika saya lihat di spot Watu Kasur, Gunung Sumbing. Terlihat jelas juga Gunung Merbabu dan Merapi terkena cahaya pagi dari ufuk timur yang sulit dijelaskan dengan kata - kata, dan sayangnya foto yang tersimpan di HP, raib bersama HP - nya di Malioboro. :'(

Destinasi pendakian sudah ditentukan, tinggal menunggu hari eksekusinya.

***

16 Agustus pukul 14.00, saya, Ronggo, Agil, dan Bondan sudah siap melaju ke Gunung Merbabu dengan menggunakan dua motor serta tak lupa kaos kebanggan dengan label "Laskar Kretek" sebuah slogan perjuangan Petani Tembakau dalam memperjuangkan hak - haknya. Seperempat jam waktu berlalu, kami sudah tiba di kota Parakan. Kemudian Bondan menghentikan laju motornya dan berkata "seperti ada yang kurang".

Aku terheran rasanya semua sudah komplit plit, makanan, tenda, alat - alat, pokoknya semuanya ada. Dia tersenyum kearah ku dan berkata "nah, kalian lupa beli bendera kan? tak lengkap 17 belasan tanpa ada bendera merah putih".

Memang encer otak nih anak, ide bagus kembali muncul. Akhirnya kami membeli 2 bendera yang kemudian kami sisipkan disamping tas gunung. Berkibarlah bendera merah putih sepanjang perjalanan ke Kopeng (salah satu base camp pendakian Gunung Merbabu).

Pukul 4 sore, kami sudah ada di basecamp pendakian menuju Gunung Merbabu melalui jalur Kopeng. Oh iya, benar - benar tak disangka. Ternyata ramai orang yang memilih merayakan Hari Kemerdekaan dengan mendaki Gunung Merbabu. Sepanjang perjalanan menuju basecamp, saya melihat ramai pendaki, ada yang berjalan dari pusat kota (kira - kira 4 km sampai ke basecamp) dengan jalan yang menanjak, ada yang menyewa mobil pickup milik warga (rezeki banyak nih haha), dan ada yang seperti kami yakni menggunakan motor.

Di basecamp, Masha Allah,, banyak sekali motor sudah terparkir rapi dan rute pendakian yang ramai manusia seperti antrian semut. Kami memang sudah berpengalaman dalam mendaki, jadi kami memutuskan untuk mendaki saat malam saja dan waktu ini lebih baik digunakan untuk istirahat.

Setelah istirahat dirasa cukup dan badan kembali segar, pada kurang lebih jam 8 malam kami memutuskan untuk mendaki. Diawali dengan mengecek semua persiapan, kemudian dilanjut untuk pendaftaran peserta yang pada saat itu saya lihat sudah sekitar 500 an orang menandatanganinya wow. Benar - benar diluar ekspektasi, saya mengira pemuda - pemudi ini akan lebih memilih pantai daripada gunung saat perayaan Hari Kemerdekaan, namun nyatanya tidak. Biaya pendaftaran adalah Rp. 10.000, untuk penjaminan keselamatan jika hal yang tidak diinginkan terjadi (biaya rescue), selain itu kami dikasih kantong plastik besar untuk dijadikan tempat sampah yang harus dibawa lagi saat turun gunung.

Seperti yang sudah saya ceritakan kenapa ingin mendaki ke Merbabu yakni karena pamornya sebagai Jembatan Setan, dengan kata itu bayanganku adalah medan yang sulit. Namun langkah demi langkah medan pendakiannya bisa saya katakan sangat mudah, banyak bonus dengan jalur datarnya. Sedikit kecewa saya rasakan, termasuk teman ngobrolku "Ronggo" yang juga kecewa dengan mudahnya jalur pendakian.

Tapi kekecewaan seakan sirna setelah sampai di Post 2 (tempat berkemah), puluhan warna - warni tenda sudah kokoh dibuat, banyak api unggun juga telah menyala, dihiasi latar malam cerah dengan ribuan bintang terang. Ada yang memasak, ada yang sibuk bangun tenda, ada yang mengabadikan momen tersebut dengan kamera. Bondan yang telah jauh meninggalkanku, Agil, dan Ronggo, ternyata sudah duduk didepan api unggun sambil merokok, dan tempat itulah yang akhirnya kami jadikan untuk mendirikan tenda.

Setelah makan dan menghabiskan beberapa camilan sambil bergurau dengan pendaki dari daerah lain yang kebetulan numpang menghangatkan badan di api unggun kami. Kami memutuskan untuk cepat - cepat tidur, supaya shubuh bisa bangun dan menikmati suasana sunrise yang menjadi keinginan pendaki manapun.

***

Shubuh kami terbangun, lekas merapikan perlatan dan mematikan api. Langsung kami bergegas ke Pos 3 yang katanya "spot terbaik untuk berfoto ria menikmati sunrise". Ada tower pemancar sinyal kokoh seperti patung Christ Redentor di Rio de Janeiro, kemungkinan bakal menjadi tempat apik untuk diterpa cahaya pagi.

Setapak demi setapak, akhirnya kami tiba di jalur pilihan, antara ke tower atau lanjut ke atas. Disini Bondan otaknya sudah tidak lagi encer, mungkin karena dinginnya malam, otaknya menjadi beku haha. Dia merasa bahwa waktu masih cukup untuk ke atas dan bisa mengambil foto yang amazing di tempat yang tinggi itu (seperti bukit).

Memang betul kita sampai di bukit nan tinggi itu sebelum matahari terbi, namun ternyata ada bukit yang lebih tinggi (yang kami kira) menutupi cahay ke tempat kami. Disaat orang - orang sudah tertawa ria menuai kehangatan dari terpaan cahaya matahari pagi dan berfoto ria, kami masih menunggu agar matahari bisa melewati ketinggian latar bukit gelap yang menghalangi, jadi kelewatan deh cahaya oranye-nya.

Berikut hasilnya :
Masih dapatlah oranye - oranyenya dikit wkwk


Demi Merah Putih
Kepada Sangsaka Merah Putih, Hormat!
Apalah ini :D
Tidak jelek - jelek amatlah walau gambarnya diambil menggunakan kamera handphone dan "salah spot" wkwk. Walaupun tempat tersebut adalah spot yang not recomended bagi pendaki yang ingin mengabadikan momen sunrise. Toh, banyak juga orang disitu selain kami hahaha.

Mereka - mereka yang juga salah spot hihi
Tapi tak apalah, lagian foto - fotonya ga jelek. Tak lama berselang, kabut menyerang sehingga mengganggu kebahagiaan kami mengabadikan foto, seketika itu jua kami putuskan untuk lanjut. 

Masih ada satu tanjakan yang harus dirintangi agar kami sampai di puncak.

Rintangan terakhir sebelum tiba di puncak
Beberapa waktu berlalu, akhirnya kami memantapkan langkah kaki di puncak Gunung Merbabu. Subhanallah, pemandangan yang indah, hantaran padang rumput di jalur Selo yang berkelak kelok nampak apik dipandang, untung saja cuaca sangat cerah.

Terlihat jalur pendakian Selo yang berkelak - kelok
Momen paling istimewa saat di puncak adalah banyaknya manusia yang merayakan Hari Kemerdekaan, bahkan ada spot untuk upacara bersama di area yang tak begitu luas. Ini merupakan pengalaman pertama kalinya dalam hidup, "Upacara Agustusan di Puncak Gunung Merbabu". Saya sangat berterima kasih kepada Bondan atas idenya, kalo bukan karena dia mungkin hal langka seperti ini tidak akan saya jumpai, terlebih akhir - akhir ini saya tidak aktif mendaki karena sibuknya urusan.

Untuk menuju area atau lapangan upacara tersebut, ternyata kami harus melewati "Jembatan Setan". Ternyata apa yang aku kecewakan tak ada, malah ada dan diluar sangkaanku. Memang tidak seekstrim seperti di stiker - stiker, tapi sangat menantang karen bila tergelincir ya Wassallam.

Maaf foto jalan setapak yang hanya bisa dilewati dengan jalan miring ala kepiting dan badan menghadap dinding batu juga raib bersama HP saya di Malioboro hiks hiks. Kenapa harus jalan miring? Karena jalan setapak tersebut memang sempit, terlebih ada tas gunung dibelakang pundakku, tidak bisa jalan normal. Itupun harus senantiasa waspada dengan menggenggam erat batu - batu saat berjalan.

Memang tak salah jika dinamakan Jembatan Setan, sangat saya rekomendasikan bagi kamu yang doyan extremee travelling. 

Dan inilah yang kami dapat setelah melewati Jembatan Setan :




Foto - foto diatas adalah suasana seteah upacara, dan harus cepat - cepat membereskan karena lahan yang sempit jadi bergantian. Kami lupa memfoto suasana pada saat upacara, tapi kenangan itu tak akan pudar dari otakku.

Matahari semakin menjulang dan panas teriknya semakin terasa. Saat itu juga kami telah puas menikmati karunia Tuhan di Bumi Pertiwi ini. Eittsssss sebelum turun cekrek dulu.

oleh - oleh puncak Merbabu 
Oh iya, otak Bondan masih juga beku wkwk. Sesampai di basecamp dia menyarankan agar istirahat dan makan, tak ada yang salah dengan Ishoma tersebut. Tapi, durasinya tidak lama hehe. Begini Ishoma versi Bondan, mandi, sholat, makan, istirahat sejenak, kemudian tancap gas pulang. Padahal, karena makan dan lelah turun gunung, membuat efek kantuk menyerang. Alangkah baiknya jika pada sat itu kami tidur setidaknya 1 - 2 jam dulu baru pulang.

Alhasil, rasa kantuk menyerang saat berkendara. Teman yang bonceng atau Si Ronggo sudah seperti tanaman diterpa angin, mengangguk - angguk karena ngantuk. Sampai di pusat kota Magelang, rasa kantuk nan berat itu benar - benar menyerangku. Kami berdua tidak sadar dalam sekejap, untung saja ada truk dengan klakson super keras mengagetkan kami berdua. Seketika kantuk hilang bahkan sampai rumah. Alhamdulillah masih selamat, tapi benar - benar keputusan yang salah.

Keindahan wisata alam negeri Indonesia tercinta ini memang tak ada habisnya bila dijelajahi baik yang sudah terkenal maupun belum. Masing - masing menyimpan sesuatu yang berharga dan unik atau beda dari yang lainnya. Anugerah Tuhan tersebut sepatutnya dijaga dan dirawat dengan penuh kesadaran, supaya wisata alam Indonesia semakin dikenal. Satu hal lagi, selalu jaga kondisi dan perhatikan hal - hal kecil seperti istirahat yang cukup sehingga tidak ada pengalaman menakutkan seperti saya diatas.

Sekian pengalaman tak terlupakan saar Merayakan Hidup Dalam Upacara Hari Kemerdekaan Indonesia di Gunung Merbabu. Semoga wisata alam Indonesia selalu terjaga dan tambah baik lagi. Untuk pingin tahu lebih banyak kisah dan tips hobi pria, silahkan kunjungi di Inpirasi Hobi Pria dari iStyle yang dijamin lebih seru dan lebih lengkap.

Tentu dan semoga petualangan mendaki gunung di Merbabu tersebut bukanlah yang terakhir, ada rencana untuk menjelajah alam lainnya di bumi pertiwi ini. Mungkin Gunung Slamet atau Gunung Semeru (semoga), dan untuk menunjang kegiatan pendakian itu, saya kesengsem dengan Tas Gunung Eiger Pria dan Sanda Piero Pico yang saya lihat di iLOTTE.com, berikut penampakannya :



SALAM LESTARI!!!

0 Komentar:

Posting Komentar