Full width home advertisement

Travel the world

Freedom Of Chit Chat!

Post Page Advertisement [Top]



Kehidupan manusia di dunia ini memiliki beberapa fase dari lahir sampai ajal tiba. Masing - masing fase mengandung tingkat kebermanfaatan bagi dirinya dan orang lain, selain itu tentunya memiliki kebutuhan yang berbeda pula.

Fase - fase kehidupan tersebut adalah saat manusia masih dalam kandungan, kemudian lahir ke dunia dan memasuki fase hidup anak - anak, disusul setelahnya masuk dalam fase remaja, kemudian masuk ke dalam fase muda (pencarian jati diri), setelah itu masuk ke fase yang matang yakni fase dewasa, dan terakhir adalah fase tua dimana kebanyakan manusia mulai menikmati hidup.

Opini atau mungkin juga fakta yang saya sebutkan diatas memiliki kesimpulan yang sakral, yaitu dari semua fase kehidupan yang sudah atau akan dilalui manusia pada dasarnya kita ingin menikmati setiap fasenya. Untuk menempuh tujuan itu, dunia ini sudah menyediakan 2 jalan sebagai sarana untuk mencapainya. Dua jalan tersebut adalah jalan kebaikan dan jalan keburukan (tidak ada jalan tengah ya), masing - masing bisa memberikan mimpi yang diidam - idamkan.

Laksana bangunan jika ingin kokoh, kuat, indah, dan memiliki daya guna. Hal yang paling penting dalam membangun bangunan tersebut adalah membuat pondasi bangunan yang sesuai dan kuat. Baru kemudian dimasukan unsur estitikanya. Manusia pun jika ingin seperti itu harus memiliki pondasi atau dasar hidup yang benar dan kuat. Pada fase manakah untuk menanamkan prinsip dasar yang baik?

Saya rasa banyak orang sepakat bahwa untuk menanamkan prinsip dasar kehidupan yang paling efisien adalah pada saat masa anak - anak. Pada masa ini , manusia pada umumnya masih belum memiliki banyak masalah dan rangsangan ingin tahu manusia terhadap apa yang dilihat dan dirasakan juga sangat kuat. Apa yang dirasakan panca indra pada si anak, baik atau buruk semuanya akan diterima tanpa filter dan bisa mengakar dalam pikiran dan tingkah laku anak.

Saya ambil contoh prinsip dari suku jawa, orang jawa menghargai dan mengistimewakan masa anak - anak yang harus diperlakukan secara khusus. Dalam tembang macapat (lagu kehidupan) ada tempat khusus dalam masa anak - anak sehingga lahirlah tembang kinanthi (lagu pembibing). Tembang kinanthi berasal dari kata "kanthi" yang artinya mengandeng atau menuntun sehingga lirik lagunya berupa aturan dan contoh budi pekerti yang baik. Filosofi tersebut mengajarkan kita bahwa anak - anak harusnya digandeng, dituntun, dibimbing, diarahkan, dan diberi pelajaran dasar yaitu moral, disiplin, dan budi pekerti yang baik.

Di era saat ini, apakah filosofi tersebut masih dijalankan?


Masih banyak yang memiliki prinsip hidup "Tembang Kinanthi" dalam memberi pendidikan terhadap anak - anak mereka. Tapi tidak sedikit pula yang telah melupakannya, dengan alasan kesibukan atau sudah mempercayakannya pada lembaga pendidik anak yang berkualitas. Memang benar dalam lembaga pendidikan anak (tempat penitipan anak, PAUD, taman kanak - kanak) memiliki tujuan untuk membantu menumbuhkan jasmani dan rohani anak. Tapi anak tidak mendapatkan unsur dituntun dan digandeng (kasih sayang orang tua) dimana ini sebenarnya unsur terpenting dalam masa anak - anak.

Terlebih lagi dalam era digital dan informasi saat ini, ada orang tua yang mempercayakan penuh pendidikan anaknya pada lembaga pendidikan saja dan saat berinteraksi pun anak sering diberi gadget kekinian untuk sekedar menghilangkan kecaperan anak atau bahasa kasarnya menghilangkan tangis anak.

Hal yang salah itu saya melihatnya sendiri dalam kehidupan sehari - hari. Singkat cerita ibu yang mempunyai dua anak sekitar umur 4 dan 6 tahun ini mendidik anak dengan cara yang salah. Pengenalan gadet yang tidak dikontrol pada usia sebelumnya dan kurangnya perhatian membuat karakter anaknya tidak ramah dan sering teriak - teriak seperti ibunya. Ketergantungan pada gadget juga membuat saya geleng - geleng kepala, seperti pada saat mati lampu otomatis wifi juga mati. Anak - anaknya menangis tak terkontrol karena video youtube otomatis juga berhenti seakan - akan tak ada mainan lainnya, dan si ibu membalasnya dengan teriakan tak mengindahkan telinga juga.

Tentu tak semua orang tua peringainya begitu. Tapi jika ada yang melihat sepintas kejadian tersebut, pastilah "gadget" tersebut menjadi bahan blaming atau yang disalahkan. Sehingga membuat seakan - akan gadget memberikan dampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan anak - anak. Lucunya lagi, kata gadget tersebut disama artikan dengan kata teknologi.

Padahal menurut KBBI, teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang - barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Sedangkan gadget adalah elektronik atau mekanik dengan fungsi praktis.

Lalu, pentingkah mengenalkan teknologi pada anak usia dini?



Ya harus! Berdasarkan penjelasan diatas, mengajarkan teknologi pada usia dini akan mencakup pertumbuhan dan perkembangan pada fisik motorik, kognitif, sosial - emosional, dan bahkan seni.

Contohnya adalah mengajarkan anak makan makanannya menggunakan sendok, dimana sendok adalah kreasi dari teknologi primitif. Dalam era saat ini juga bisa menggunakan gadget untuk sarana anak usia dini dalam merangsang kognitif, sosial - emosional, dan seni mereka. Misal mengajarkan menggambar pada media tablet, menonton kartun, bermain games anak - anak, dan sebagainya.

Jadi, pengenalan teknologi pada usia dini bukan lagi penting tapi merupakan suatu keharusan. Baik teknologi lama dan kalau memungkinkan teknologi kekinian yang harus diajarkan sesuai porsi guna anak memiliki kemampuan dasar supaya bisa mandiri dan berguna untuk orang lain.

Dengan mengenalkan teknologi kekinian seperti gadget, orang tua bisa menilai apakah anak tersebut memiliki bakat untuk advance pada dunia informasi dan digital. Apabila betul si anak memiliki potensi pada bidang teknologi informasi dan digital, maka anda sebagai orang tua memiliki pilihan untuk penuh mendukungnya atau mencari potensi lainnya. Jika dirasa anak memiliki potensi tersebut, tak salah untuk memberi pendidikan dasar skill di bidang teknologi informasi dan digital yang bisa didapatkan dari anda sendiri (jika bisa) atau lembaga kursus.

Salah satu lembaga kursus pengembangan bidang IT pada anak yang terbaik adalah Dumetschool. Sejauh pengetahuan saya, mungkin hanya Dumet School yang memiliki program kursus pemrograman komputer untuk anak - anak (usia 6 - 12 tahun). Selain karna program kursus yang spesial ini, Dumetschool juga sangat terpercaya dengan para pengajar yang sudah tersertifikat. Lihat sendiri ya, beberapa penawaran menarik dari Dumetchool disini.

Perlu diketahui bahwa ilmu pemograman komputer telah mampu merubah wajah peradaban manusia. Bidang ilmu ini melahirkan berbagai teknologi yang sangat membantu manusia seperti aplikasi - aplikasi startup, website, artificial intelegent, otomasi mesin, dan masih banyak lagi.

Jika anak memiliki potensi untuk menguasai bidang keilmuan ini, sudah bisa dibayangkan bukan betapa bermanfaatnya si anak bagi dirinya dan orang lain?

Uraian diatas menjelaskan bahwa pengenalan teknologi pada anak usia dini adalah pondasi agar ia bisa mandiri dan berguna.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]